diya’s room











{Mei 4, 2009}   tanpa arti

menyakitkan.., saat kita sadar kalo kita g berarti

lagi-lagi cerita seorang temanku sama pasangannya. sebenernya dia lebih suka menyebutnya calon suami. mungkin dia merasa yakin dengan pilihannya sekarang.

salut buat temenku ini (sebut saja Rani), menurutku dia cukup sabar menghadapi pasangannya yang …….., entahlah gimana aku harus menyebutnya. Rani pernah bilang, pacarnya sekarang sebenernya jauh dari kriteria yang diinginkannya, tapi dia mengatasnamakan cinta untuk kenyataan dia menyayangi pemuda itu.

mereka sempat putus, karena rani ngerasa sangat lelah menghadapinya yang super diam dan pasif. tapi karena kekasih rani, sebut saja dio, memintanya untuk tetap bersama, rani berubah pikiran. kejadian itu membuat rani sadar kalo gak ada seorang pun yang sempurna.

rani berusaha nerima keadaan ini, lagi2 mengatasnamakan cinta. hubungan mereka berjalan seperti biasa. luka2 kecil karena kediaman dan kurang pengertiannya dio diterimanya. rani tak ingin menyalahkan siapapun, karena memang tak ada yang bisa disalahkan.

rani tak suka jika tiba2 dio diam dan gak nyambung diajak ngobrol. ketika ditanya ada apa, dio selalu menjawab “gak papa” dan setelah itu diam lagi. rani merasa betapa tak berharganya dia, tak bisa membuat dio nyaman bersamanya, tak bisa mengubah mood-nya jadi lebih baik, bahkan tak bisa membuatnya tersenyum.

rani paling tak suka dibentak. dia bilang dadanya terasa sesak saat seseorang membentaknya dan dia menceritakan itu pada dio. suatu saat hanya karena rani mengajaknya bercanda, dio membentaknya. saat itu dio sedang ngutak-ngutik komputernya. dan rani hanya diam.

dio paling tak suka menunggu dan rani mencoba memahami itu. karena itu, rani selalu mencoba tepat waktu dan memberi kabar jika terlambat. tak berbeda dengan dio, rani juga tak suka menunggu, tapi berulang kali dio membuatnya menunggu sangat lama.

kejadian ini berulang-ulang dan tak ada yang berubah. suatu saat rani merasakan kelelahannya lagi, kejenuhan seperti yang pernah dirasakannya dulu. dan dia bingung, apa dia harus mengambil keputusan seperti dulu?

rani mengadu, dia menceritakan betapa tak berartinya dia untuk orang yang hampir 2 tahun didampinginya. betapa sulitnya membuat dio mengerti dirinya, betapa sulitnya dio mengingat hal kecil tentang rani. betapa tak berartinya rani untuk dio, hingga dio seolah tak peduli jika yang dilakukannya melukai rani.

saat rani mengadu, aku tanya, untuk apa bertahan kalo memang sudah gak bisa menahan. dan rani menjawab, “aku tau, dio gak sengaja melakukan ini, dia gak tau kalo apa yang dia lakukan nyakitin aku. aku tau dia sayang aku dan gak pernah sengaja pengen nyakitin aku.”

hhh…, lagi2 karena cinta. aku hanya berpikir, sehebat itulah cinta..?!?!



{Mei 1, 2009}   bapak itu…

Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan seorang bapak. Aku baru saja keluar dari apotek kimia farma di jalan diponegoro. Bapak itu, usianya mungkin sekitar 40 tahun, mengendari sepeda yang terlihat tua dan tak terurus. Bajunya kotor dan sobek di beberapa bagian. Di setir sepedanya, menggantung sebuah tas yang juga kotor dan kusam.help_by_tellien

Bapak itu mendekati kami dan bertanya, “Mbak, kalo mau ke bungur asih lewat mana?” dan aku menunjukkan arah padanya. Dia bertanya lagi, “Yang bunderan waru itu ya, mbak?” dan aku mengiyakan. Lalu dia bilang dia ingin pulang ke jombang, karena tak mendapat pekerjaan di Surabaya. Bapak itu berlalu bersama sepeda yang tidak dinaikinya, tapi hanya dituntun. Aku sama idung bisik-bisik, “Orang itu gak papa ta? Jangan-jangan orang gila..” begitulah kira-kira.

Lalu aku melajukan motor. Ketika melewati bapak itu, aku memperhatikannya. Wajahnya terlihat begitu lelah dan pucat. Dia mengusapkan punggung tangannya ke matanya yang ternyata berair. Bapak itu menangis. Motorku terus melaju mencari masjid, karena idung blom sholat dzuhur, tapi pikiranku masih di sepanjang jalan diponegoro dan di sepanjang jalan yang mungkin dilalui bapak itu.

Bodohnya aku, kenapa aku begitu jahat dan tak langsung menolongnya. Mungkin saja bapak itu belom makan dan mungkin saja dia membutuhkan sedikit uang untuk pulang ke jombang. Kejamnya aku, tega sekali aku berpikiran dia bukan orang waras. Pikiran2 itu akhirnya membuatku ingin mencarinya.

Selesainya idung sholat, aku mengajaknya menyusuri sepanjang jalan menuju bungur asih, berharap aku tak terlambat. Pelan sekali motorku melaju, tapi di setiap jengkal jalan yang kami lewati, bapak itu tak terlihat. Di kiri ataupun di kanan jalan, tak ada bayangannya.

Kecewa? Iya. Menyesal? Sangat. Kejadian ini memberi pelajaran buatku. Bahwa kita tak perlu membuang waktu ketika kita tau kita bisa melakukan sesuatu untuk orang yang membutuhkan pertolongan.



dan lain-lain