Setiap orang tentu mempunyai idealisme hidup sendiri. Ada idealisme yang dipengaruhi oleh profesi, oleh pengalaman hidup ataupun oleh sudut pandangnya tentang hidup. Ada orang yang konsisten dengan idealismenya, namun ada juga yang kurang konsisten karena terpengaruh beberapa faktor, baik faktor internal maupun eksternal.
Idealismeku sebagai seorang insan pers, jika nantinya aku memang ditakdirkan untuk menjadi seorang yang berkecimpung di dunia jurnalistik (amien..!!), sedikit banyak akan dipengaruhi oleh prosefiku. Jika memang diizinkan, aku punya angan-angan untuk mengembalikan stabilitas jurnalistik di Indonesia.
Seperti yang sudah banyak orang tahu, bahwa kehidupan pers sekarang ini sudah banyak dipengaruhi oleh unsur politik dan kapitalisme. Bisa dikatakan bahwa saat ini bukan pers yang mengendalikan informasi di masyarakat, tapi pers yang dikendalikan oleh masyarakat dalam hal penyampaian pesannya. Lihat saja televisi dewasa ini. Acara-acara sinetron, film televisi, infotainment mendominasi tayangan televisi dan itu terjadi sepanjang hari, seminggu penuh.
Intisari acara-acara tersebut pun lebih diberatkan pada unsur hiburan daripada pendidikan, informasi, apalagi kontrol sosial. Hal tersebut tentu bukan semata-mata karena hanya itu yang bisa diberikan oleh media massa, akan tetapi lebih karena pihak media lebih memilih memberikan sesuatu yang diinginkan masyarakat.
Ketika perhatian masyarakat terfokus pada siaran infotainment, maka media masaa bersaing menampilkan acara infotainment. Ketika masyarakat dimanjakan oleh film televisi, nyaris semua stasiun televisi berperang rating dalam menampilkan film televisi. Begitu seterusnya.
Sebenarnya teori uses and gratification yang diterapkan media massa tersebut terbilang bagus. Media berusaha mencari tahu kebutuhan masyarakat akan informasi dengan tujuan pemenuhan kebutuhan masyarakat akan informasi. Namun, dewasa ini media massa terus berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat dengan orientasi laba. Ketika masyarakat mendapatkan keinginan dari media tertentu, maka mereka akan mengkonsumsi media tersebut dan itulah yang dicari media.
Oleh karena itu, media memanfaatkan kebutuhan masyarakat tersebut sebagai ladang keuntungan mereka. Masalah baik atau tidaknya isi pemberitaan mereka itu urusan belakang, yang penting adalah mereka bisa meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.
Dan itulah yang ingin aku ubah. Jika nantinya memang aku sukses menekuni profesi ini, aku ingin pers kembali pada fungsinya, yaitu sebagai media penyampai informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Aku ingin pers di Indonesia benar-benar bebas dalam hal pemberitaan, tidak ditunggangi oleh kepentingan pihak manapun.
Tentu tidak mudah untuk sukses dalam dunia jurnalistik ini, karena itu sekarang aku hanya akan ikut arus dulu. Aku berusaha masuk ke dalam sistem pers yang ada saat ini. Mempelajari keadaan yang ada, melakukan analisis SWOT dan menembak tepat pada kelemahannya. Namun, yang pasti aku tak mungkin melakukannya seorang diri, aku harus merangkul teman-teman aktivis pers yang masih memegang idealismenya sebagai insan pers untuk bisa mewujudkan pers yang bebas.


