Jari-jariku terasa agak kaku saat pertama kali mataku menghadap layar komputer dan bersiap untuk menulis sesuatu. Hampir selalu seperti itu. Bukan hanya jari, tapi otak juga. Kadang terlalu banyak ide yang muncul di kepala di saat yang gak terduga dan aku merasa gak bisa mencatat ide itu untuk aku kembangkan nanti. Belum lagi karena keterbatasan ingatanku yang kadang gak bisa ditoleransi. Aku sering mudah melupakan sesuatu.
Aku berangan-angan menjadi seorang penulis terkenal, entah itu penulis cerpen, novel, maupun buku nonfiksi. Saat berkunjung ke toko buku aku selalu membayangkan bahwa suatu saat bukuku akan ada di toko buku ini dan diserbu oleh para kutu buku. Bahagianya..!!
Satu langkah maju yang sangat berarti dalam hal menulis ini adalah waktu aku masih duduk di bangku SMA. Saat itu aku hampir menanggalkan status sebagai siswa SMADA Ngawi. Waktu itu sudah terlalu banyak cerpen yang aku tulis, entah itu di komputer, di buku, ataupun di kertas. Kebanyakan yang aku tulis di kertas cuma ide cerita saja.
Waktu itu, aku gak punya cukup banyak uang untuk memenuhi kebutuhan yang lain. Orang tua memberikan jatah tiap minggu untuk jajan di sekolah, kebutuhanku yang lain bisa aku minta di luar uang jajan itu. Tapi, waktu itu aku gak pengen minta sama orang tua dan aku bertekad mengumpulkan uang sendiri. Selain tekad mengumpulkan uang, aku juga mengumpulkan keberanian dan percaya diriku untuk mengirimkan naskah cerpen ke sebuah penerbit, saat itu aku memilih majalah remaja, Aneka Yess!.
Akhir bulan itu sebenarnya uangku tidak cukup banyak, tapi aku sudah punya cukup keberanian untuk mengirimkan naskah itu. Akhirnya aku pergi ke kantor pos yang ada di timur alun-alun kota Ngawi. Saat itu hanya berbekal uang gak lebih dari 10ribu perak. Aku pikir kapan lagi aku bisa mulai, kalo gak sekarang.
Cukup lama aku nunggu kabar dari Aneka Yess!, aku berharap sekali cerpen itu bisa dimuat, tapi ternyata tidak semudah itu untuk sukses. Berbulan-bulan aku menunggu, sama sekali gak ada jawaban dari Aneka Yess!. Akhirnya aku menyerah dan gak menunggu lagi. Aku berniat mengirimkan naskah lagi ke majalah, tapi sebelum sempat mengeprint cerpen yang ada di komputer, aku harus merelakan mereka semua menghilang karena virus gak kenal kompromi sama komputerku.
Setelah itu, aku mulai jarang menulis, bukan karena putus asa, tapi karena kesibukkanku. Aku harus belajar lebih giat demi masuk kampus impianku. Setelah melewati masa yang melelahkan karena harus tes ini dan itu, akhirnya aku harus mengubur keinginan masuk kampus impianku dan menjalani kuliah di UPN. Gak masalah, yang penting aku optimis dan bisa dapet ilmu di sini.
Tahun pertama kuliah, aku mulai menulis lagi, tapi belum menemukan keberanian untuk mengirimkan naskah ke majalah atau ke media lagi. Tahun keduaku di UPN, aku mendapat tugas yang cukup penting di organisasi yang aku ikuti dan kegiatan yang ada di sana sangat menyita waktuku sehingga aku semakin jarang menulis cerita. Tulisan yang aku buat hanya sebatas catatan harian dan ide-ide cerita yang sering muncul di sembarang tempat.
Sekarang ini aku sedang aktif mengikuti ajaran2 menulis yang diberika oleh Jonru, pengelola penulislepas.com dan belejarmenulis.com. Ingin sekali bergabung dengan Sekolah Menulis Online yang juga dikelolanya, tapi aku belum punya cukup uang dan aku gak ingin menyusahkan orang tua untuk saat ini. Jadi sekarang aku sedang menabung untuk bisa ikut SMO angkatan V nanti. Insya Allah..
Yang bisa aku petik dari perjalanan hidupku itu adalah, bahwa saat kita mempunyai sebuah niat untuk melakukan sesuatu yang baik, niat itu gak akan berarti apa-apa kalo kita gak melakukan sesuatu untuk mewujudkan niat itu menjadi nyata.
Do nothing got nothing, tidak melakukan apa-apa, maka juga tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena niat tanpa kemauan untuk menjalankan sama saja seperti mimpi yang hanya ada pada saat kita terlelap di bawah alam sadar.

