diya’s room











{Agustus 8, 2008}   Mengenal UPN Luar dan Dalam

Ketika mendengar kata “kampus”, pikiran dan imajinasi orang tentu akan melayang pada mahasiswa dan mahasiswi yang berkeliaran di sekitar gedung-gedung bertingkat yang di dalamnya ada dosen yang sedang mengajar sekian mahasiswa. Terbayang juga aktivitas diskusi dan gelak tawa canda pada remaja yang mulai beranjak dewasa.
Kondisi umum itulah yang memang terjadi di kampus yang notabene adalah tempat belajar setelah meninggalkan bangku sekolah tingkat tertinggi. Kondisi ini juga yang terjadi di kampus UPN “Veteran” Jatim. Bisa dikatakan bahwa kampus itu ibarat satu negara kecil, yang di dalamnya dipimpin oleh seorang rektor yang dibantu oleh wakilnya, memiliki batas wilayah kekuasaan, dan memiliki masyarakat, dalam hal ini adalah seluruh civitas akademika kampus.

gedung Pasca Sarjana UPN "Veteran" Jatim

gedung Pasca Sarjana UPN "Veteran" Jatim

Selama kurang lebih delapan tahun UPN dipimpin oleh rektor Drs. H. Warsito, S.H.,M.M., masyarakat sekitar tentu bisa melihat adanya banyak berubahan yang terjadi di kampus UPN. Banyak sekali pembangunan secara fisik yang telah dilakukan Warsito untuk memperindah kampus yang mendapat julukan kampus hijau ini. Mulai dari pembangunan gedung Giri Pustaka, Giri Pasca, Giri Santika, Giri Satya, rumah dinas satpam hingga pembangunan sport center yang sekarang sedang dalam proses. Selain itu, gedung-gedung yang sudah ada juga mengalami perbaikan agar tetap terjaga.

Namun, ternyata dibalik keindahan gedung dan rimbunnya pepohonan yang menaungi UPN, masih ada permasalahan di tubuh para civitas akademika kampus. Masalah kesejahteraan pegawai kecil misalnya. Seorang cleaning service Fakultas Pertanian pernah mengeluhkan betapa gaji yang diterimanya tidak cukup untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera. Tiap bulan dia hanya menerima gaji yang sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya bersama keluarga. Dia tidak mendapatkan tunjangan apa-apa karena tidak berstatus pegawai tetap UPN.
Selain masalah kesejahteraan, ada juga permasalahan akademik. Di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) misalnya. Sudah menjadi rahasia umum jika jurusan Ilmu Komunikasi UPN bisa dikatagorikan jurusan favorit sehingga calon mahasiswa yang antre pun tidak tanggung-tanggung. Jurusan ini menerima mahasiswa lebih dari 350 orang setiap tahunnya. Sementara itu jumlah mahasiswa yang lulus tiap tahunnya hanya berkisar pada angka 100.
Kepadatan penduduk di Fisip ini sebenarnya bisa ditanggulangi dengan pengadaan atau penambahan ruang kelas yang memadai dan kuantitas dan kualitas pengajar yang bisa diandalkan. Jika hal itu diperhatikan dan memang dilakukan, maka hambatan untuk mendapatkan akreditasi jurusan yang lebih baik akan berkurang. Selain itu, pihak universitas maupun fakultas dan jurusan seharusnya tidak hanya memikirkan kuantitas mahasiswa yang bisa masuk jurusan Ilmu Komunikasi, tapi lebih memikirkan tentang kualitas mahasiswa.
Kondisi yang kontras dengan Fisip terjadi di Fakultas Pertanian (FP), jurusan Teknik Pangan Fakultas Teknologi Industri (FTI) dan jurusan teknik Lingkungan Fakultas Teknil Sipil dan Perencanaan (FTSP) yang justru mengalami kemerosotan jumlah mahasiswa. Tercatat bahwa dari tahun ke tahun peminat jurusan ini terus menurun. Untuk FP, penurunan ini tidak hanya terjadi di UPN, tapi juga hampir di seluruh perguruan tinggi hingga pernah diadakan pertemuan antara dekan FP beberapa univeritas untuk membahas pengkerdilan program studi di FP.
Sangat disayangkan, padahal orang-orang FP, jurusan Teknik Pangan, dan Teknik Lingkungan yang berkompeten sangat dibutuhkan dewasa ini, mengingat sudah banyak orang yang tidak mau bertani dan memilih kerja kantoran, melihat kenyataan banyaknya permasalahan yang berhubungan dengan bahan makanan dan semakin panasnya bumi karena global warming. Sentuhan tangan berkolaborasi dengan ilmu yang mereka miliki tentu bisa membuat keadaan menjadi lebih baik.
Seharusnya pihak universitas juga menaruh perhatian dalam masalah ini, bukan hanya pihak fakultas yang harus bersusah payah mengerahkan seluruh cara agar jurusannya diminati banyak calon mahasiswa.
Ada juga masalah di bidang administrasi mahasiswa. Sudah tidak terhitung berapa kali pihak birokrasi UPN didemo oleh mahasiswa-mahasiswa UPN yang sadar dan menginginkan adanya perubahan di kampus tercintanya.
Memang jarang sekali ada universitas yang selalu mengikutsertakan mahasiswa dalam proses pembuatan kebijakan, tapi bukankah seharusnya memang mahasiswa dan civitas akademika lainnya diikutkan dalam pembuatan kebijakan di kampus. Karena nantinya, pada akhirnya, civitas akademika-lah yang akan merasakan dampak dari kebijakan yang dibuat tersebut.
Kampus, yang bisa dikatakan sebagai miniatur sebuah negara, haruslah bisa menanamkan demokasi yang memberikan ruang pada siapa saja yang ingin menyuarakan aspirasinya. Kampus adalah tempa menimba ilmu sekaligus menempa diri agar setelah lulus bisa menjadi pribadi yang berjiwa besar, kuat dan dewasa dalam menyikai segala sesuatunya.

forum yang mempertemukan mahasiswa dengan pihak birokrasi

forum yang mempertemukan mahasiswa dengan pihak birokrasi



Tinggalkan Balasan

dan lain-lain