diya’s room











{Agustus 7, 2008}   for Parents or Parents to be

A friend of mine forwarded me this story which I’d like to share with all
of you.
We always think that what we (as parents) said or did to our kids will be
received without reserve or because “it is good for their future”.
Instead, surprisingly, it might go to a different direction.
A little bit long story, but worth to be read….

Tahun 2005 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak
sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu
itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.
Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang
duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu,
waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya
tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa
yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan
menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun.
Prestasinya kian lama kian merosot.

Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika: “Apa yang kamu inginkan ?”

Dika hanya menggeleng. “Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya.
“Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat.
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk
mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan.
Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog. Suatu
pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk
menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi
soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil
bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana
skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi,
bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka
140 – 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan
verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas). Perbedaan yang mencolok
pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah
yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab
itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar
Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani
test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti
serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang
dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang
menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan
verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban
yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya
berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku :….”
Dika pun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja”
Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya
kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas.

Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif
sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya
menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket,
kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di
komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan
demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara
merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena
sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai
kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika
yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana
: diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.
Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku ….”
Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya
“Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan
sesuatu”.

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau
diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia
hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa
yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi
kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus
dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang
habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal
seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …”
Maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya” Dalam banyak hal saya
merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin,
hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap
yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika
persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali
ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan
bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak : ..”
Dika pun menjawab “Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak
mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa”

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan
bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk
berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah
dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan
memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah
dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua
tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu
tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.
..

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan
untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya.
Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi
pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan
yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang …..”
Dika pun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”. Saya cukup
kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat
sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya
penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun
ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting
untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya
diingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan
pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya
dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang …..”,
Dika pun menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan
nya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak
pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta
maaf kepadaku”…

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia,
orang tua tak luput dari kesalahan.

Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau
mengakui kesalahannya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya,
seperti apa
yang diajarkan orang tua kepadanya.
Ketika Psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari …..”
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar “Aku
ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk
adikku”. Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi
saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata
saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan
supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari
bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali
oleh anak-anak diterjemahkan
sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari …”
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata
“tersenyum”.

Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan
senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman
tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi
justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan
segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku
memanggilku. …”
Dika pun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus”
Saya tersentak sekali!

Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh
arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan . Namun sayang, tanpa sadar, saya
selalu memanggilnya dengan sebutan Nang… Nang dalam Bahasa Jawa diambil
dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku
memanggilku ..”
Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”. Selama ini suami saya
memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo”
karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda
dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang sayur keliling”
kata suami saya..

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu
karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan
memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan
pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak
Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan “To Respect
Child Rights is an Obligation, not a Choice” sebuah seruan yang
mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan”.

Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah
memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.
Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah
anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang
jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua
ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun
anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus
diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak
boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus
mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik.

my baby

my baby



Tinggalkan Balasan

dan lain-lain